Yang Membuat Tertib Lalu Lintas di Singapura

Diakui memang pertubuhan kendaraan di Jakarta tidak diiringi dengan perkembangan fasilitas jalanan. Menurut data yang didapatkan dari Dinas Perhubungan DKI, ada 1000 kendaran bermotor yang terjual pada tiap harinya.

Hal ini bertolak belakang denga peraturan yang ada di Singapura, yang menetapka banyak peraturan pada warganya yang ingin memiliki kendaraan pribadi. Manajer Komunikasi Land Transport Authority (LTA), menjelaskan bahwa banyak warga negara Singapura yang berfikir dua kali untkuk memiliki kendaraan pribadi.

1. Menerapkan pajak tinggi dan membatasi usia kendaraan.

Selain kebijakan peninggian pajak juga memberikan batasan usia kepemilikan kendaraan yang hanya dibatasi 10 tahun. Memang izin memiliki kendaraan pribadi di Singapur memang tidak mudah. Sistem tersebut ada yang namanya Preferential Additional Registration Fee (PARF) dan Vehicle Quota System.

Quota sistem mengtur berapa jumlah pertumuhan kendaraan di Singapura semenjak tahun 1990. Sedangkan sistem Preferential Additional Registration Fee (PARF) memberi batasan jika sudah 10 tahun maka dilarang untuk menggunakan. Sistem ini sudah diterapkan semenjak 1975.

2. Penerapan jalan berbayar.

Kebijakan electronic road pricing (ERP) juga menuntut penduduk Singapura untuk berfikir ingin memilki kendaraan pribadi baik itu beroda dua maupun empat.

3. Sulit mencari parkir.

Susahnya mencari lokasi parkir, sehingga harus berparkir dalam gedung yang bertaris sedikit lebih mahal. Dan itu dibenarkan jika tidak, akan terjadi kemacatan. Dengan peraturan yang begitu banyak juga diiringi dengan perbaikan transprtasi massal tiap saat.

Anda mungkin juga berminat Lagi daripada pengarang

Ruangan komen telah ditutup.