Skandal BBM Tidak Memberi Pengaruh Pada Investasi Mitsubishi Di Indonesia

Saat ini Mitsubishi Motors Corporation (MMC) masih berada dalam masalah. Sebuah perusahaan yang berada di Jepang itu harus berurusan dengan banyak pihak pasalnya perusahan tersebut ketahuan memanipulasi data konsumsi bahan bakar untuk empat model keicar atau minicar yang di produksi untuk pasar domestic negara Jepang. Dari keempat model tersebut telah diketahui total skandal menjerat sebanyak 625 ribu unit minicar. Dan dua model adalah merek Nissan Motor dan kedua lainnya adalah merek Mitsubishi sendiri.

Kasus tersebut bukan hanya mengundang perhatian besar di negara Jepang saja, bahkan lembaga keamanan Amerika Serikat juka ikut ambil memeriksa Mitsubishi Amerika Untuk memastikan apakah di negara Amerika Serikat juga terdapat produk yang di manipulasi. Namun cukuk melegakan pasalnya berdasarkan laporan yang telah beredar, dari model yang di uji di AS tidak ditemukan sama sekali adanya kecurangan atau manipulasi data tersebut.

Maka dalam hal ini Menteri perhubungan Jepang, yakni Keiichi Ishii telah memberikan tantangan waktu selama satu minggu bagi MMC untuk menyusun laporan final terkait dengan kasus tersebut. Dan selain itu, Menteri Perhubungan Jepang juga meminta perusahaan untuk membeli kembali mobil yang sudah berada di tangan para konsumen, apabila memang konsumen menghendakinya.

Namun meski Jepang saat ini masih heboh dengan adanya maslah skandal BBM yang di alami oleh Mitsubishi dan Amerika Serikat juga sedikit melakukan antisipasi, namun untuk sejauh ini untuk produk Mitsubishi yang di pasarkan di Indonesia dikatakan masih aman aman saja dari sekandal BBM tersebut. Pasalnya hingga saat ini belum ada temuan mengenai manipulasi bahan bakar untuk produk Mitsubishi yang di pasarkan secara global misalnya saja seperti Pajero, Outlander, Delica, dan juga Mirage. Dan smuanya pun masih dikatakan aman.

Maka dalam hal ini, Presiden Direktur PT Karma Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), yakni Hisashi Ishimaki mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil investigasi yang masih dilakukan oleh tim khusus yang telah di bentuk oleh MMC. Lalu sementara itu untuk menjaga obyektivitas penyelidikan, seluruh anggota tim berasal dari luar MMC.

Dengan adanya kasus tersebut, Mitsubishi kemungkinan besar harus mengalami banyak kerugian, selain untuk membeli kembali mobil yang telah terjual, MMC juga harus membayar denda dan kompensasiyang jumlahnya pastinya tidak sedikit. Maka menanggapa hal tersebut, Ishimaki menegaskan bahwa hingga saat ini hal tersebut masih belum dipastikan karena masih menunggu keputusan final. Namun pihaknya memberikan tambahan bahwa untuk sejauh ini proyek di Indonesia masih tetap berjalan dengan lancar dan tidak ada perubahan.

Hanya sekedar informasi bahwa sampai pekan lalu pembangunan pabrik Mitsubishi di Indonesia sudah mencapai sekitar 88 persen dan di perkirakan akan selesai pada bulan Agustus 2016 mendatang.

Anda mungkin juga berminat Lagi daripada pengarang

Ruangan komen telah ditutup.